Kaum muslimin yang berbahagia
Dalam kesempatan yang baik ini, marilah kita bersyukur kepada Allah SwT atas nikmat dan karunia yang dicurahkan kepada kita. Nikmat yang jumlah dan ragamnya tidak terhingga, dan nilainya yang luar biasa bagi kita itu wajib kita syukuri. Sekalipun mungkin kita pernah mengalami hidup susah akibat ujian atau cobaan yang menimpa kita, marilah kita jadikan itu sebagai momen untuk muhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bersyukur adalah wajib hukumnya, tapi tidak semua orang bisa bersyukur, seperti kata Allah
dan hanya sedikit dari hambaku itu yang bersyukur.
Mudah-mudahan kita tergolong dalam hambanya yang bersukur itu, sehingga akan mendapatkan tambahan nikmat baik secara kuantitas atau jumlah dan ragam nikmat, atau pun secara kualitas, yaitu nilai dan berkah dari nikmat itu.
‘Idul Fithri bermakna kembalinya fitrah. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai manusia yang mulya dan berstruktur terbaik secara jasmaniyah maupun ruhaniyah.
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)." (Qs at-Tin ayat 4-5)
"Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna." (QS al-Isra' ayat 70).
Tetapi setelah lahir di dunia ini, banyak manusia yang gagal mempertahankan fitrahnya itu, sehingga statusnya jatuh menjadi manusia yang berada di tingkat yang paling rendah
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” QS. Surah At-Tin ayat 5.
Kehidupan dunia yang penuh godaan dan rayuan, permainan dan kenaifan, menjadikan manusia lupa diri, menjadikan dirinya kotor, berlumuran dosa dan penyimpangan. Maka berbahagialah mereka yang tetap membuat jiwanya suci, dan celakalah mereka yang membuat jiwanya kotor.
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Surah Ash-Shams ayat 9–10.)
Mudah-mudahan amalan dan ibadah kita selama Ramadhan bisa berhasil melakukan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), sehingga benar-benar fitrah itu kembali ke masing-masing diri kita.
Kembali kepada fitrah juga bermakna kembali kepada tauhid, yakni keyakinan atas kesesaan Allah SwT.
Tauhid adalah fitrah manusia yang telah diberikan oleh Allah SWT sejak penciptaan prototipenya
Pada saat itulah Allah bertanya kepada manusia, “Apakah Aku bukan tuhanmu,” maka manusia menjawab “ya, betul, kami bersaksi.”
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulb (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab “Betul, kami bersaksi.” Kami lakukan yang demikian itu, agar di hari kiamat kamu tidak katakan “Sesungguhnya kami lengah ketika itu.” (Qs al-A'raf [7]: 172).
Mari kita mantabkan tauhid kita dengan keyakinan dan perbuatan sesuai dengan jalan atau garis yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Semangat tauhid itu harus memancar pada sikap setiap Muslim untuk memuliyakan manusia. Membangun persaudaraan, empati, solidaritas, dan saling menolong adalah manifestasi keimanan kita. Penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan inilah yang ditekankan dalam kehidupan pada bulan Ramadlan. Kita harus mampu mengekang hawa nafsu, seperti amarah, mengumpat, menyakiti orang lain, dan sebaliknya kita didorong untuk bersikap lemah lembut, bersedekah dan membayar fitrah. Apa yang pernah dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW harus menyentuh kesadaran kita bersama. Nabi SAW bersabda:
“Wahai manusia, sebarluaskan perdamaian, berilah makan, jalinlah silaturrahim, dan shalatlah pada waktu malam ketika manusia sedang tidur, engkau akan masuk surga dengan damai.” (HR Tirmidzi).
Hadis Nabi tersebut mengajarkan agar kita menjadi sumber kedamaian dan menegakkan perdamaian; mengajarkan kita memperhatikan nasib para fuqara’ dan masakin serta orang-orang yang sedang menderita pada umumnya; mengajarkan kita untuk menyayangi sesama, dan tidak menunjukkan permusuhan; mengajarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah di keheningan malam. Islam sesungguhnya adalah agama kemanusiaan yang menjunjung tinggi kehormatan dan kemuliaan manusia.
Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT semenjak Nabi Adam AS sampai dengan Nabi Muhammad SAW
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” QS. Surah Ali 'Imran ayat 19.
untuk kemaslahatan di dunia dan akhirat. Islam adalah agama unggul
Islam adalah agama yang mengajarkan kemajuan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Kalau kita memahami ajaran Islam dengan benar dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh, maka umat Islam akan menjadi umat yang maju. Kalau masih terbelakang, berarti ada yang salah dalam memahami dan mengamalkan Islam. Karena itu, mari kita terus belajar dan berjuang untuk mewujudkan ajaran Islam sehingga menjadi rahmat bagi dunia seisinya. Allah juga telah menitahkan bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang telah diciptakan bagi seluruh manusia.
QS. Surah Ali 'Imran ayat 110.Seandainya suatu bangsa itu beriman dan bertaqwa, pasti akan Kami bukakan pintu barakah dari langit dan bumi.” Sebaliknya,
Karena itu, umat Islam memiliki kewajiban dan tanggung jawab atas pengelolaan masyarakat dan negara atas landasan iman dan takwa, atas landasan budi luhur, dan menentang pengelolaan yang kotor, korup, dhalim, karena akan menyebabkan hilangnya berkah.
Kekayaan negara tidak akan membuahkan berkah bagi rakyat tetapi bahkan melahirkan penderitaan jika dilola dengan hawa nafsu dan keserakahan, tidak dilola dengan semangat akhlakul karimah agar mendapatkan ridla Allah SWT.
Dalam suasana ‘idul Fithri ini marilah kita saling memaafkan, saling mendoakan agar semua amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
Sumber: Majalah SM Edisi 06/2025
Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Khutbah Idul Fitri 1446 H: Manusia Tauhid dan Kemuliaan, https://suaramuhammadiyah.id/read/khutbah-idul-fitri-1446-h-manusia-tauhid-dan-kemuliaan

0 comments:
Posting Komentar