Perspektif Al-Qur’an, Sunnah, dan Pandangan Para Ulama
I. Mukadimah
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi bulan transformasi diri. Ia adalah madrasah ruhaniyah yang Allah siapkan untuk membentuk manusia bertakwa. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari gelap menuju cahaya, dari lalai menuju taat, dari dosa menuju ampunan.
Allah ﷻ berfirman:
(QS. البقرة: 183)
Makna utama Ramadhan adalah “لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ” — agar kamu menjadi orang bertakwa.
II. Hakikat Hijrah dalam Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ bersabda:
(HR. البخاري ومسلم)
Artinya: “Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan apa yang Allah larang.”
1️⃣ Hijrah adalah Perintah Allah
(QS. العنكبوت: 69)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri di jalan Allah, maka Allah akan membukakan pintu hidayah dan taufik untuknya. Ramadhan adalah momentum jihad melawan hawa nafsu.
III. Ramadhan sebagai Madrasah Perbaikan Diri
1️⃣ Puasa Melatih Pengendalian Diri
(HR. البخاري)
Puasa adalah perisai. Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa puasa menjadi perisai dari dosa, syahwat, dan api neraka.
- Lisan dari ghibah
- Mata dari maksiat
- Hati dari hasad
2️⃣ Ramadhan Bulan Ampunan
(HR. البخاري ومسلم)
Imam Al-Qurthubi رحمه الله menjelaskan bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk membuka lembaran baru kehidupan.
IV. Dimensi Hijrah Ramadhan
1️⃣ Hijrah Spiritual (Ruhiyah)
(QS. الشمس: 9–10)
Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa keberuntungan sejati adalah keberhasilan membersihkan jiwa dari dosa.
2️⃣ Hijrah Akhlak
(HR. البخاري)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa puasa yang hakiki adalah puasa seluruh anggota tubuh dari maksiat.
3️⃣ Hijrah Sosial
(HR. أحمد)
Hijrah bukan hanya pribadi, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial, mempererat silaturahim, dan membantu fakir miskin.
V. Tanda Hijrah Ramadhan Berhasil
- Lebih menjaga shalat setelah Ramadhan
- Al-Qur’an tetap dibaca
- Maksiat mulai ditinggalkan
- Hati lebih lembut
(QS. الرعد: 11)
Perubahan harus dimulai dari dalam diri.
VI. Penutup
Hari raya bukan bagi yang memakai pakaian baru, tetapi bagi yang takut kepada ancaman Allah.