Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah
A. Pendahuluan
Hidup seorang mukmin bukan sekadar menjalani rutinitas dunia, tetapi perjalanan ruhani menuju ridha Allah (رِضَا اللَّهِ). Setiap hembusan nafas adalah kesempatan untuk mendekat, memperbaiki niat, dan memperbanyak amal.
Al-Qur'an menegaskan bahwa tujuan akhir kehidupan bukan sekadar keberhasilan duniawi, tetapi memperoleh keridhaan Allah ﷻ.
B. Hakikat Ridha Allah
Secara bahasa, ridha (الرِّضَا) berarti senang, rela, atau puas.
Secara istilah syar’i: Ridha Allah adalah penerimaan dan kecintaan Allah kepada hamba-Nya karena iman, ketaatan, dan keikhlasan.
Dalil Al-Qur’an
Artinya: “Dan keridhaan dari Allah adalah lebih besar (daripada surga itu sendiri). Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 72)
Menurut Ibn Kathir, ridha Allah adalah nikmat tertinggi yang melampaui seluruh kenikmatan fisik di akhirat.
C. Hidup dengan Orientasi Ridha Allah
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’am: 162)
Al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan totalitas penghambaan dalam seluruh aspek kehidupan.
D. Menjemput Ridha Allah Melalui Keikhlasan
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi fondasi utama dalam meraih ridha Allah. Amal besar tanpa niat yang benar bisa kehilangan nilainya, sedangkan amal sederhana dengan niat tulus bernilai besar di sisi Allah.
Menurut Al-Ghazali, ikhlas adalah memurnikan tujuan hanya untuk Allah, membersihkan hati dari keinginan dipuji manusia.
E. Ridha Allah dalam Amal Sehari-hari
- Senyum kepada sesama
- Mencari nafkah halal
- Mendidik keluarga
- Bersabar dalam ujian
- Menahan diri dari maksiat
Artinya: “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
F. Ciri Hamba yang Diridhai Allah
Artinya: “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 119)
- Ikhlas dalam ibadah
- Konsisten dalam ketaatan
- Sabar dalam ujian
- Ridha terhadap takdir Allah
- Menjaga hati dari riya dan ujub
Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyya, ridha seorang hamba kepada Allah akan melahirkan ketenangan, dan ridha Allah kepada hamba akan melahirkan kebahagiaan abadi.
G. Dimensi Spiritual: Setiap Nafas Bernilai Ibadah
Artinya: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” (HR. Tirmidzi)
Takwa adalah kesadaran konstan kepada Allah — artinya setiap hembusan nafas dapat menjadi ladang pahala bila disertai niat yang benar.
H. Penutup: Hidup dalam Lingkaran Ridha
Menjemput ridha Allah berarti:
- Meluruskan niat
- Memperbaiki amal
- Membersihkan hati
- Konsisten dalam ketaatan
Artinya: “Masuklah ke dalam surga, tidak ada rasa takut atasmu dan tidak pula kamu bersedih hati.”
Aamiin.

0 comments:
Posting Komentar