Gembira Menyambut Bulan Ramadhan


Perspektif Al-Qur’an, Sunnah, dan Pendapat Ulama

A. Pendahuluan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat. Umat Islam diperintahkan untuk menyambutnya dengan penuh kegembiraan sebagai bentuk syukur atas kesempatan beribadah yang agung. Kegembiraan ini bukan sekadar emosional, tetapi berlandaskan dalil Al-Qur’an, Sunnah, serta pemahaman para ulama.

B. Perspektif Al-Qur’an

1. Ramadhan Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

(Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 185)

Makna: Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang haq dan batil.

📌 Implikasi kegembiraan:
Jika Al-Qur’an adalah petunjuk hidup, maka datangnya bulan yang dimuliakan dengan turunnya wahyu adalah nikmat besar yang layak disambut dengan suka cita.

2. Perintah Bergembira atas Karunia Allah

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

(QS. Yunus: 58)

Artinya:

"Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan."

Penjelasan:

  • “Karunia Allah” (فَضْلِ ٱللَّهِ) oleh sebagian mufassir ditafsirkan sebagai Islam.
  • “Rahmat-Nya” (وَبِرَحْمَتِهِ) ditafsirkan sebagai Al-Qur’an.

Maknanya: kegembiraan seorang mukmin seharusnya berpusat pada nikmat iman, Islam, dan Al-Qur’an, bukan semata-mata pada harta dan kenikmatan dunia.

Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa bergembira menyambut Ramadhan—bulan Al-Qur’an dan bulan turunnya rahmat— adalah sikap yang selaras dengan tuntunan Al-Qur’an.

Menurut tafsir Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, yang dimaksud dengan karunia dan rahmat Allah adalah Islam dan Al-Qur’an. Maka Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an termasuk nikmat terbesar yang patut disyukuri dengan kegembiraan.

C. Perspektif Sunnah Nabi ﷺ

1. Kabar Gembira dari Rasulullah ﷺ

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُصَفَّدُ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

(HR. Ahmad bin Hanbal, dinilai hasan oleh para ulama)

Artinya: "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu langit (dalam riwayat lain: pintu-pintu surga), ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan yang durhaka dibelenggu. ”

📌 Pelajaran:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan juga oleh An-Nasa’i, dan dinilai hasan oleh para ulama. Makna umumnya menunjukkan bahwa Ramadhan adalah momentum rahmat besar dari Allah, sehingga sepantasnya disambut dengan kegembiraan, kesiapan iman, dan semangat ibadah. Rasulullah ﷺ menyampaikan Ramadhan sebagai kabar gembira, bukan beban.

2. Dua Kegembiraan Orang Berpuasa

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِندَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِندَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Artinya:

"Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka, dan kegembiraan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya."

Kegembiraan pertama adalah kebahagiaan saat berbuka puasa sebagai bentuk nikmat yang Allah berikan setelah menahan diri seharian. Sedangkan kegembiraan kedua adalah kebahagiaan yang lebih besar ketika bertemu Allah dan menerima pahala atas ibadah puasanya.

Hadits ini menunjukkan bahwa kegembiraan adalah bagian dari ibadah puasa itu sendiri.

D. Pendapat Para Ulama

1. Ibnu Rajab Al-Hanbali

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menjelaskan bahwa para salaf berdoa enam bulan sebelum Ramadhan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan setelahnya agar amalnya diterima. Ini menunjukkan betapa mereka merindukan dan bergembira menyambutnya.

2. Imam An-Nawawi

Yahya ibn Sharaf al-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan bahwa memperbanyak ibadah dan menampakkan semangat dalam Ramadhan termasuk sunnah yang dianjurkan.

3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Ibn Taymiyyah menyebutkan bahwa bergembira atas datangnya musim ketaatan adalah tanda hidupnya hati dan keimanan seseorang.

E. Bentuk Kegembiraan yang Disyariatkan

  1. Memperbanyak doa menyambut Ramadhan
  2. Membersihkan hati dari dosa dan permusuhan
  3. Menyiapkan program ibadah (tilawah, sedekah, qiyam)
  4. Menyebarkan semangat kebaikan kepada keluarga
  5. Tidak berlebihan dalam euforia duniawi

Kegembiraan yang benar adalah kegembiraan yang mendekatkan kepada Allah, bukan sekadar tradisi atau budaya konsumtif.

F. Kesimpulan

  1. Ramadhan adalah karunia dan rahmat Allah yang agung.
  2. Al-Qur’an memerintahkan bergembira atas nikmat agama.
  3. Rasulullah ﷺ menyampaikan Ramadhan sebagai kabar gembira.
  4. Para ulama menegaskan bahwa bergembira menyambut musim ketaatan adalah tanda iman.

Maka menyambut Ramadhan dengan gembira adalah sikap yang berdasar pada dalil dan tradisi ulama salaf.

DAFTAR ISI

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Telegram
Share on Whatsapp
Tags :

0 comments:

Posting Komentar