
(Tadabbur QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 78–80)
Dalam kehidupan modern, manusia sering terjebak pada dua sikap ekstrem: terlalu menggantungkan diri pada kemampuan manusia dan teknologi, atau pasrah tanpa ikhtiar yang sungguh-sungguh. Al-Qur’an memberikan tuntunan yang seimbang melalui kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
A. Pembacaan Ayat
وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Artinya:
“(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku.
Dan Tuhan yang memberi aku makan dan minum.
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
Tafsir QS. Asy-Syu‘arā’ (26): 78–80
Ayat-ayat ini merupakan bagian dari dialog Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang menegaskan prinsip-prinsip tauhid dalam kehidupan manusia, meliputi hidayah, rezeki, dan kesembuhan.
Ayat 78
Artinya: “(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku.”
Tafsir Ulama
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan tauhid rububiyah, yaitu keyakinan bahwa Allah tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga memberikan hidayah berupa fitrah, akal, dan wahyu agar manusia mengenal jalan kebenaran.
Ath-Thabari menafsirkan kata yahdīn sebagai petunjuk menuju iman, tauhid, dan ketaatan, bukan sekadar kemampuan hidup secara naluriah.
Al-Qurthubi menegaskan bahwa hidayah adalah nikmat terbesar setelah penciptaan, karena tanpa hidayah manusia tidak akan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dalam perspektif kausalitas, hidayah tidak turun secara magis tanpa usaha. Belajar, membaca, berdialog, dan berpikir kritis merupakan sebab-sebab yang Allah tetapkan agar manusia sampai kepada kebenaran.
Prinsip ini sejalan dengan Islam berkemajuan yang menempatkan akal, pendidikan, dan ilmu pengetahuan sebagai instrumen penting dalam memahami dan mengamalkan agama.
Ayat 79
Artinya: “Dan Tuhan yang memberi aku makan dan minum.”
Tafsir Ulama
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa meskipun makanan dan minuman diperoleh melalui usaha manusia, hakikat pemberi rezeki tetaplah Allah. Manusia hanya menjalankan sebab, sedangkan Allah yang menciptakan hasilnya.
Al-Qurthubi menyebut ayat ini sebagai pendidikan tauhid agar manusia tidak menyandarkan nikmat kepada makhluk, jabatan, atau kekuatan ekonomi, melainkan kepada Allah semata.
Ath-Thabari menegaskan bahwa ayat ini menumbuhkan sikap syukur, tawakal, dan menjauhkan manusia dari kesombongan serta keputusasaan.
Dalam hukum kausalitas Islam, kerja adalah sebab, rezeki adalah akibat, dan Allah adalah penentu hasil. Mengabaikan sebab berarti bertentangan dengan sunnatullah, sementara menggantungkan hasil pada sebab semata adalah bentuk ketergantungan yang keliru.
Ayat ini meneguhkan etos kerja, kemandirian ekonomi, dan tanggung jawab sosial, yang merupakan nilai penting dalam moderasi beragama.
Ayat 80
Artinya: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
Tafsir Ulama
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kesempurnaan adab Nabi Ibrahim kepada Allah, dengan menyandarkan kesembuhan hanya kepada-Nya, meskipun proses pengobatan dilakukan melalui sebab-sebab medis.
Al-Qurthubi menyoroti kehalusan bahasa ayat ini: Nabi Ibrahim tidak menyandarkan sakit kepada Allah, tetapi secara tegas menyandarkan kesembuhan kepada Allah sebagai bentuk adab yang tinggi.
Ath-Thabari menegaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bolehnya berobat, karena ikhtiar tidak bertentangan dengan tauhid selama keyakinan tetap bahwa Allah adalah Asy-Syāfī (Maha Penyembuh).
Dalam perspektif kausalitas Islam, berobat adalah sebab, sembuh adalah akibat, dan Allah adalah Maha Penyembuh. Prinsip ini menolak fatalisme dan mendorong sikap rasional serta ilmiah dalam menjaga kesehatan.
Kesimpulan Tafsir
- Allah adalah pemberi hidayah, rezeki, dan kesembuhan.
- Manusia diperintahkan berikhtiar secara rasional dan proporsional.
- Tauhid melahirkan sikap syukur, tawakal, dan moderasi dalam kehidupan.
C. Nilai-Nilai Utama Kajian
- Tauhid yang aktif dan membumi
- Ikhtiar yang rasional dan bertanggung jawab
- Tawakal yang benar dan proporsional
- Keseimbangan iman, ilmu, dan amal
D. Penutup
QS. Asy-Syu‘arā’ ayat 78–80 mengajarkan bahwa kehidupan seorang mukmin harus dibangun di atas tauhid yang kuat, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan tawakal yang benar. Inilah wajah Islam yang moderat, mencerahkan, dan relevan dengan kehidupan modern.

0 comments:
Posting Komentar