Tafsir Terjemahan QS. Al-Isrā’ Ayat 1

Abstrak

QS. Al-Isrā’ ayat 1 menjelaskan peristiwa Isra’ Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu mukjizat terbesar dalam Islam. Ayat ini mengandung dimensi akidah, sejarah, dan pendidikan yang sangat penting. Makalah ini bertujuan mengkaji tafsir terjemahan QS. Al-Isrā’ ayat 1 beserta pendapat para ulama untuk memperkuat pemahaman keimanan pelajar dan mahasiswa.

A. Teks Arab dan Terjemahan QS. Al-Isrā’ Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan: Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

B. Tafsir Terjemahan dan Pendapat Para Ulama

Ayat ini diawali dengan lafaz Subḥān yang bermakna penyucian Allah SWT dari segala kekurangan. Menurut para mufasir, penggunaan tasbih pada awal ayat menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ merupakan kejadian luar biasa yang tidak dapat diukur dengan hukum logika manusia biasa, melainkan harus diterima dengan keimanan penuh terhadap kekuasaan Allah SWT.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menegaskan bahwa peristiwa Isra’ terjadi secara nyata, yakni dengan jasad dan ruh Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, karena jika Isra’ hanya berupa mimpi, maka tidak memiliki keistimewaan sebagai mukjizat dan tidak menimbulkan penolakan dari kaum Quraisy pada masa itu.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penyebutan Nabi Muhammad SAW dengan istilah ‘abdihi (hamba-Nya) mengandung makna yang sangat mendalam. Allah tidak menyebut Nabi dengan gelar kerasulan atau kenabian, melainkan dengan kehambaan, yang menunjukkan bahwa derajat tertinggi seorang manusia di sisi Allah adalah sebagai hamba yang taat dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya.

Sementara itu, Imam Fakhruddin Ar-Razi menyoroti aspek rasional dan teologis ayat ini. Menurutnya, pembukaan ayat dengan tasbih merupakan isyarat bahwa akal manusia tidak boleh menolak peristiwa Isra’ hanya karena dianggap mustahil secara logika. Sebab, Allah SWT sebagai pencipta ruang dan waktu memiliki kekuasaan mutlak untuk melampaui hukum-hukum alam yang biasa berlaku.

Para ulama juga sepakat bahwa penyebutan Masjidil Aqsa sebagai tempat yang diberkahi menunjukkan keutamaannya dalam sejarah Islam. Masjid ini merupakan pusat dakwah para nabi terdahulu dan menjadi simbol kesinambungan risalah tauhid dari para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.

C. Kandungan dan Hikmah Ayat

  • Peneguhan iman terhadap kekuasaan mutlak Allah SWT.
  • Keimanan terhadap mukjizat Nabi Muhammad SAW.
  • Penegasan kehambaan sebagai derajat tertinggi manusia.
  • Keutamaan dan kemuliaan Masjidil Aqsa.

Kesimpulan

QS. Al-Isrā’ ayat 1 mengandung ajaran akidah yang sangat kuat. Peristiwa Isra’ merupakan mukjizat nyata yang menegaskan kekuasaan Allah SWT dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai hamba-Nya.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.
Al-Qurthubi. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an.
Fakhruddin Ar-Razi. Mafatih al-Ghaib.

DAFTAR ISI

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Telegram
Share on Whatsapp
Tags :

0 comments:

Posting Komentar